Informatif dan Menghibur

Thursday, January 31, 2013

Foto Menakjubkan Olahraga Ekstrim Defying Jump

Gambar – gambar ini adalah beberapa dari ratusan yang diambil oleh fotografer olahraga ekstrim Krystle Wright, yang mempertaruhkan nyawa untuk mengunjungi lebih dari 24 negara untuk menangkap momen menakjubkan.

Para pecandu adrenalin meluncur ke tanah dari atas Castleton terkenal di Gurun Moab, Utah, Amerika Serikat.
 


Ini adalah pencari sensasi Michael Tomchek yang terjun dari puncak Menara Castleton terkenal di Gurun Moab, Utah, Amerika Serikat

•Steph Davis tampak sebagai Ben Lowe Basis lompat Tombstone terkenal di Moab Desert, Utah
• Ryan Sorg sementara melompat dari Basis 'G-Spot' di Moab Desert, Utah

• Dari kiri ke kanan: Ana Isabel Dao, Carly Thomas, Jim Mitchell dan Wildman melakukan lompatan empat arah Kiguti di Fjord Ford Sam, Pulau Baffin, di wilayah Kanada

• Jay Moledzki di wingsuit untuk melihat sejauh mana angin akan membawanya kembali di 
Pulau Baffin


• James MacDonald melompat dari Kiguti di wingsuit di Pulau Baffin. The 'DASAR' adalah singkatan untuk empat jenis objek yang jumper melompat dari Bangunan, Antena, spans (Jembatan)

• Davenport Ted melompat dari Ottawa Peak (4800ft) merayap di Fjord Ford Sam di Pulau Baffin

• Dari kiri ke kanan: James MacDonald, Katie Hansen dan Ben Mitchell luangkan waktu untuk mengambil dalam pemandangan menghadap Sam Fjord Ford di Pulau Baffin



• Sebuah jumper Basis melompat dari Blue Mountains di Australia sebelum menarik parasutnya untuk pendaratan


 
 • Snapper Krystle Wright, kiri, telah mempertaruhkan nyawa dan anggota tubuh untuk menangkap jumper Basis seperti Jason Cooper, terlihat meninggalkan meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri di Ottawa Puncak sebelum Basis melompati Fjord Ford Sam, Pulau Baffin

Read More

Penumpang: Kalau ada orang Batavia Air, saya pukul

               Penumpang: Kalau ada orang Batavia Air, saya pukul

Kekecewaan calon penumpang maskapai penerbangan Batavia Air tidak terbendung. Meskipun PT Metro Batavia secara resmi sudah memutuskan untuk tidak lagi terbang terhitung mulai hari ini, Kamis (31/1), calon penumpang yang sudah terlanjur memesan tiket ngotot tetap ingin terbang.

Salah satunya Butar, 36, calon penumpang Batavia Air tujuan Batam. "Kalau ada orang Batavia Air, saya tonjok, kesal sekali saya. Giliran kami delay mereka juga tidak mau tahu," tegas Butar kepada merdeka.com di Bandara Soekarno Hatta, Kamis (31/1).

Penumpang lainnya, Zulbasir juga mengungkapkan kekecewaannya. Dia mengaku tidak tahu mengenai penghentian operasional Batavia Air. Zulbasir pun ngotot ingin tetap terbang sesuai jadwal tiket yang sudah dipesan untuk penerbangan hari ini.

"Saya harus berangkat hari ini. Saya tunggu dari jam 7, take of 09.45, saya mau berangkat hari ini juga pokoknya," ujarnya.

Penumpang lain yang ngotot ingin tetap terbang hari ini adalah Indriyanto. "Saya masih beli tiket tadi malam, masa langsung besok paginya langsung berhenti operasi. Ini tidak masuk akal, saya harus berangkat hari ini juga," katanya.

Menyusul putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang menetapkan Metro Batavia pailit, maskapai penerbangan Batavia Air dinyatakan berhenti beroperasi.

"Berdasarkan putusan PN Pusat, secara resmi kami nyatakan Batavia Air tidak beroperasi," tegas kuasa hukum Batavia Air Raden Catur Wibowo di Jakarta, Rabu (30/1).

Humas Batavia Air Elly Simanjuntak mengatakan, karena Batavia Air secara resmi berhenti beroperasi pada 31 Januari 2013, maka penumpang yang sudah terlanjur memesan tiket pesawat bisa mengembalikan tiket yang sudah dipesan.

"Bagi penumpang yang sudah pesan tiket, bisa datang dan lapor ke kantor perwakilan kami untuk pencatatan refund," ujar Elly kepada merdeka.com, Rabu (30/1).

Meski bakal dilakukan pencatatan atas tiket yang sudah terlanjur dipesan, manajemen Batavia Air tidak bisa menjamin tiket tersebut bisa dikembalikan. Alasannya, segala sesuatu yang berurusan dengan dampak dari putusan pailit, diserahkan sepenuhnya ke kurator.

"Kami sendiri tidak bisa mengatakan tiket bisa dikembalikan, kami berusaha semaksimal mungkin membantu pengembalian tiket. Kami melakukan pencatatan dan kami serahkan sepenuhnya ke kurator. Ada empat kurator yang sudah ditunjuk," jelasnya.

sumber: Merdeka.com
Read More

Marzuki Alie: Lutfi jadi tersangka, wajah DPR makin suram

                Marzuki Alie: Lutfi jadi tersangka, wajah DPR makin suram


Ketua DPR RI, Marzuki Alie menilai citra lembaga DPR RI semakin terpuruk dengan ditetapkannya Presiden PKS yang juga anggota Komisi I DPR RI, Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka dugaan suap impor daging. Apalagi kasus korupsi yang melibatkan kader PKS itu sangat jarang terjadi.

"Kalau memang beliau (Luthfi Hasan Ishaaq) benar terlibat, DPR RI semakin terpuruk, wajah DPR RI semakin suram dan kelam," kata Marzuki di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (31/1).

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu ada keberanian dari partai politik yang ada di DPR RI untuk memperbaiki citra yang hanya dirusak oleh oknum anggota partai seperti memberikan sanksi dan sebagainya.

"Kita harus mencari solusi agar citra DPR RI menjadi baik lagi. Partai politik harus memiliki komitmen yang tegas terhadap anggotanya untuk tidak melakukan korupsi," ujarnya.

Meski demikian, sesama orang yang berkecimpung di dunia legislasi Marzuki menyampaikan keprihatinannya dengan ditetapkan Luthfi sebagai tersangka.

"Saya prihatin dengan kejadian yang menimpa Luthfi. Mudah-mudah, beliau tidak terlibat sama sekali," imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden PKS ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap impor daging oleh KPK semalam. Luthfi dijemput paksa langsung digelandang ke KPK usai memimpin rapat tertutup di DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Sumber: Merdeka.com
Read More

Pelaporan Pajak Presiden SBY dan Keluarga Menimbulkan Tanda Tanya

                                   (Ilustrasi oleh thejakartapost.com)


Pelaporan pajak tahunan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta kedua anaknya, Agus Harimurti dan Edhie “Ibas” Baskoro, menimbulkan tanda tanya. Dalam dokumen yang menunjukkan Surat Pemberitahuan (SPT) SBY dan kedua anaknya, yang berhasil didapatkan The Jakarta Post, tidak menyebutkan detail sejumlah penghasilan yang didapatkan sepanjang tahun 2011.

Keaslian dokumen itu dibenarkan oleh sejumlah sumber yang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan. SPT tahun 2011 yang dimasukkan pada kuartal pertama tahun 2012 tertulis, SBY disebutkan memperoleh penghasilan Rp 1,37 miliar selama setahun sebagai presiden dan tambahan Rp 107 juta dari sejumlah royalti.

Dalam dokumen itu juga terungkap pada tahun 2011, SBY membuka sejumlah rekening bank yang total nilainya mencapai Rp 4,98 miliar dan 589.188 dollar AS atau sekitar Rp 5,7 miliar (kurs Rp 9.600 per dollar AS). Dalam SPT itu tak disebutkan detail dari mana sumber keuangan itu. Juru bicara presiden,Julian Pasha, tidak memberikan respon atas pertanyaan The Jakarta Post, Selasa (29/1/2013).

The Jakarta Post juga tak berhasil mendapatkan SPT SBY tahun sebelumnya dan juga tak tahu di mana dana-dana itu tersimpan, apakah berasal dari harta sebelumnya atau merupakan akumulasi terbaru.
SBY selama ini selalu menekankan tentang pentingnya warga untuk memenuhi kewajiban pajak mereka termasuk keinginan untuk tranparansi bagi para pejabat publik. “Mari kita ciptakan kultur pajak berbudaya, menciptakan pemerintahan yang bersih, transparan, dan bertanggung jawab,” demikian kata SBY di depan Direktorat Jenderal Pajak pada tahun 2009 ketika ia memasukkan SPT tahunan.

Sementara, Agus (34), dalam SPT tahun 2011 ia menyebutkan memperoleh penghasilan tahunan Rp 70,2 juta. Agus adalah seorang perwira di Kostrad di Jakarta. Dokumen pajak itu juga memperlihatkan, Agus membuka empat rekening bank berbeda dan sebuah akun deposito dengan total Rp 1,63 miliar. Tak ada informasi di dokumen mengenai sumber-sumber dana tersebut dan pada bagian pendapatan tambahan, termasuk istri Agus, Annisa Pohan, dibiarkan kosong.

Agus terdaftar sebagai pembayar pajak sejak tahun 2007 namun baru memasukkan SPT pada tahun 2011. Ibas memberikan penjelasan, berdasarkan undang-undang, hanya perwira tinggi militer yang wajib melaporkan sumber kekayaan mereka. “Mas Agus sekarang hanya seorang mayor,” katanya, dalam email.
Ibas, yang menggambarkan dirinya sebagai pejabat publik dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR, mengaku selalu konsisten memasukkan pelaporan pajak ke KPK sejak tahun 2009. “Saya selalu memenuhi kewajiban saya untuk memasukkan pelaporan pajak tahunan sesuai dengan aturan,” katanya.
Berdasarkan SPT tahun 2011, Ibas memperoleh pengasilan Rp 183 juta sebagai anggota DPR dari Partai Demokrat. Ia juga memiliki investasi sebesar Rp 900 juta di PT Yastra Capital, deposito sebesar Rp 1,59 miliar, dan uang tunai totalnya mencapai Rp 1,57 miliar.

Ibas tidak menyebutkan dalam SPT pendapatan lainnya seperti pembayaran dividen, donasi, saham ataupun jenis investasi lain. Ia memiliki total aset sebesar Rp 6 miliar seperti yang tertulis dalam SPT tahun 2010 termasuk sebuah Audi Q5 SUV dengan harga Rp 1,16 miliar.

Sebagai seorang anggota DPR, Ibas diharuskan melaporkan kekayaan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di mana ia menyebutkan total aset pada tahun 2009 sebesar Rp 4,42 miliar. Dalam SPT tahun 2009, aset Ibas senilai Rp 5,18 miliar. Ia tidak menyebutkan adanya sumber pendapatan lain.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa, yang juga mertua Ibas, memberikan penegasan. “Sebagai ayah dari mereka (Ibas dan Agus), saya memberikan kepastian kepada Anda jika tak ada perbedaan dari pelaporan pajak mereka,” katanya.

Dirjen Pajak Fuad Rahmany  mengatakan seharusnya ada penjelasan rasional jika ada perbedaan data yang mencurigakan dari pembayaran pajak yang dilakukan keluarga presiden. “Mustahil jika keluarga presiden tidak mengisi SPT dengan benar. Mereka memiliki tim khusus yang menghitung semua kewajiban pajak mereka untuk memastikan akurasi,” katanya.
Fuad menambahkan, direktorat juga tak punya otoritas mempertanyakan ke pembayar pajak jika terdapat perbedaan antara akun bank dan penghasilan tahunan mereka.



Read More
serbanyampur.blogspot.com. Powered by Blogger.

© Serba Serbi Informasi Bercampur Di Sini, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena